Sungguh pilu kehidupan yang dijalani Idris (15), siswa SMP di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Dirinya tinggal di Dusun Batu Lanteang, Desa Pattopakang, Kecamatan Mangngarabombang, Kabupaten Takalar dengan dua anggota keluarganya yang tak dapat bekerja.
Ia pun harus bekerja serabutan untuk merawat dan menghidupi Se'do (78), neneknya, dan Mallu (43), ayahnya.
Dari Kompas.com, Rabu (11/4/2018), nenek Idris sudah tak bisa berjalan dan ayahnya setiap hari hanya duduk termenung.
"Cuma dia saja yang bisa kerja karena neneknya sudah tidak bisa jalan dan bapaknya begitu saja cuma duduk termenung setiap hari karena gangguan jiwa. Jadi, kalau pulang sekolah, dia kerja sembarang kadang disuruh sama orang," kata Jumadin Daeng Tarra, salah seorang warga.
Diketahui, Mallu mengalami gangguan jiwa setelah tertimpa kecelakaan pada 2011.
Karena ayah Idris tak kunjung sembuh, ibunya meninggalkan mereka dan membawa serta dua saudara Idris.
Idris pun harus banting tulang mencari nafkah di usia belia setelah sang ibu tega meninggalkannya.
Sepulang sekolah dirinya membantu orang lalu kadang diberi uang, kadang hanya makanan.
"Kalau pulang sekolah, saya kerja sembarangan. Kadang disuruh sama orang atau ada warga di sini yang butuh bantuan, saya bantu. Di situ saya dapat uang, kadang juga cuma dikasih (diberi) makan," ujar Idris, Rabu (11/4/2018).
"Kalau dapat uang, saya belanja kebutuhan dapur, kalau ada sisanya, saya simpan untuk biaya sekolah," tambahnya.
Karena hal tersebut, Idris nyaris tak punya waktu untuk bermain dengan teman sebayanya.
Waktu ia habiskan hanya untuk belajar serta merawat nenek dan ayahnya.