Bibi Wati tinggal di daerah pedesaan. Bibi Wati sendiri tidak pernah menikah dan punya anak. Bibi Wati pernah menceritakan bahwa dulunya, dia sempat mau menikah. Tapi pada akhirnya, pasangan Bibi Wati malah meninggalkannya. Bibi Wati yang patah hati pun mengalihkan dirinya dan membuka restoran kecil.
Restoran kecil ini bisa mencukupi dirinya. Tapi perlahan-lahan, Bibi Wati pun menjadi tua. Badannya sering sakit-sakitan.
Restoran kecil ini bisa mencukupi dirinya. Tapi perlahan-lahan, Bibi Wati pun menjadi tua. Badannya sering sakit-sakitan.
Suatu hari, Bibi Wati merasakan rasa sakit di kakinya. Bibi Wati pun memutuskan untuk istirahat di rumah memulihkan dirinya. Tiba-tiba, suara bel pintu berdering. Bibi Wati berpikir bahwa itu adalah pengantar makanan yang baru saja di pesannya.
Pengantar makanan tersebut adalah seorang pemuda. Setiap hari, dia akan mengirim sayur ke rumah Bibi Wati. Tidak peduli cuaca terik atau hujan, pemuda ini selalu datang dengan sayuran segar.
Sebenarnya, ada sesuatu yang menjanggal di hati Bibi Wati. Entah mengapa, pemuda ini selalu datang meski hanya ada satu orderan. Pemuda itu juga tidak memungut biaya servis kepada Bibi Wati. Terkadang ketika Bibi Wati tidak pesan, pemuda itu tetap datang.
Awalnya, Bibi Wati merasa tidak enak hati menanyakan pertanyaan seperti itu kepada pemuda itu. Tapi pada akhirnya, dia tidak bisa menahannya dan menanyakan pertanyaan tersebut.
Pemuda itu pun dengan canggung menjelaskan bahwa dia adalah seorang yatim piatu. Ada suatu hari dimana dia sangat kelaparan dan jalan di depan restoran Bibi Wati.
Melihat ada uang di kasir, pemuda itu mencuri sedikit uang. Pas-pasan, Bibi Wati melihat perlakuannya.
Bukannya marah, Bibi Wati malah menghibur pemuda tersebut, bahkan memberinya makan. Tidak sampai disitu saja, Bibi Wati juga memberinya sedikit uang.
Sejak hari itu, pemuda tersebut tidak melakukan perbuatan tidak bermoral itu dan merasa sangat terharu. Dia ingin membalas kebaikan Bibi Wati.
Setelah itu, dia juga baru tahu bahwa profesi pengantar makanan memang kurang orang. Pemuda itu pun mulai bekerja di bidang ini.
Awalnya, pemuda tersebut ingin mengunjungi restoran Bibi Wati. Setelah sampai, restoran Bibi Wati sudah tutup. Setelah bertanya kepada orang disekitar, dia baru tahu mengapa restoran Bibi Wati tutup.
Orang-orang juga berkata bahwa alasannya adalah karena kaki Bibi Wati sakit. Pemuda itu pun berpikir kalau mengirim sayur ke rumah Bibi Wati adalah satu cara untuk membalas budi Bibi Wati waktu itu.
Bibi Wati langsung kaget, pantesan setiap hari ada orang yang mau mengirim dan tidak minta uang servis.
Bibi Wati pun tersenyum dan memuji perlakuan pemuda itu. Dia berkata bahwa kedepannya, uang harus diterima. Bibi Wati pun mengundang pemuda itu masuk untuk berbincang-bincang.
Perlakuan yang baik pasti dapat mengubah kehidupan dan pikiran seseorang. Meski terlihat kecil, tapi semua itu tetap berarti. Jangan lupa untuk berbuat baik dari hal kecil. Kamu akan mengubah dunia ini menjadi lebih baik.
Sumber: Beauty



