Perbudakan dan perdagangan orang-orang kulit hitam menjadi salah satu kisah kelam dalam sejarah umat manusia yang menggambarkan kejamnya kapitalisme. Saat ini, melalui berbagai film dan drama televisi, lukisan, dan karya seni lainnya, kita dapat memahami situasi yang terjadi pada saat itu. Ada sebuah situasi yang pastinya hampir semua orang pernah melihat, namun 90% dari mereka tidak menyadarinya sebagai sebuah hal yang aneh. Saat akan menjual budak, pedagang budak seringkali membawa cambuk dan mencambuk budak-budak yang akan dijual tidak peduli apakah budak-budak tersebut melawan atau tidak. Selain itu, mereka juga selalu berpakaian rapi, sedangkan budak-budak tersebut hampir telanjang, hanya ada secarik kain saja yang menutupi bagian pribadinya. Tentu saja ada alasan di balik situasi tersebut, tapi kira-kira apa ya?
Beberapa orang berpendapat bahwa iklim di Afrika sangat panas sehingga penduduk di sana sejak dulu tidak mengenakan pakaian. Memang benar bahwa suhu udara di sana tinggi, tetapi karena sinar matahari yang terik, tentu perlu juga mengenakan pakaian untuk melindungi kulit agar tidak terbakar. Oleh karena itu, budak-budak yang nyaris telanjang saat dijual itu adalah situasi yang disengaja. Dari catatan sejarah, kita dapat mengetahui bahwa mereka yang terpilih untuk menjadi budak, pertama-tama tubuhnya akan ditandai terlebih dahulu menggunakan besi panas dan kemudian mereka akan dikumpulkan di dalam gudang hingga jumlahnya cukup banyak untuk dikirim. Sebelum dinaikkan ke perahu, tidak peduli pria atau wanita, semua pakaian yang mereka kenakan akan dilepaskan dan setelah naik ke atas perahu, baru mereka akan diberikan kain kanvas lusuh untuk dikenakan di pinggang. Lalu untuk apakah semua itu?
1. Untuk mencegah penyebaran penyakit menular
Pada masa itu, penyakit menular adalah musuh alami utama manusia dan jumlah kematian karena penyakit menular sangatlah besar. Penyebaran penyakit di satu benua pada umumnya tidak akan mempengaruhi hingga ke benua lain, tetapi lain halnya jika terjadi perpindahan penduduk besar-besaran dari satu benua ke benua lain atau dalam hal ini yaitu mengangkut budak kulit hitam dengan jumlah cukup besar ke benua lain. Salah satu contoh penyakit yang berhasil menyebar ke ke Benua Amerika dari Benua Afrika adalah demam kuning.
Karena itu, sebelum dikirim menggunakan kapal, dokter akan dengan hati-hati memeriksa seluruh tubuh budak-budak tersebut. Di satu sisi pemeriksaan ini untuk melihat apakah tubuh budak-budak tersebut sehat dan tidak ada cacat, sedangkan di sisi lain hal ini bertujuan untuk memeriksa ada tidaknya penyakit menular yang mereka derita. Demi mempermudah pemeriksaan ini, maka mereka semua pun ditelanjangi dan pakaian yang mereka kenakan pun akan dibuang karena pakaian juga dianggap menjadi salah satu media penyebaran penyakit menular.
2. Penghematan biaya
Setelah pakaian mereka semua dibuang, mereka tidak lagi diberikan pakaian baru dengan alasan untuk menghemat biaya. Para pedagang budak melakukan perjalanan ke seluruh dunia untuk membeli dan menjual budak dengan menggunakan kapal. Semakin rendah biaya yang mereka keluarkan, maka akan semakin besar keuntungan yang mereka peroleh. Lagipula, untuk apa mengeluarkan uang demi para budak? Jadi mereka pun memanfaatkan kain kanvas lusuh yang ada di kapal dan agar penggunaannya seminimal mungkin, maka yang ditutupi hanya bagian pribadi saja.
3. Orang Eropa memandang rendah orang kulit hitam
Orang Eropa berpikir bahwa satu-satunya cara untuk membedakan manusia dari hewan adalah dengan berdandan cantik. Di mata mereka, orang-orang kulit hitam hanya dipandang sebagai hewan untuk digunakan sebagai alat penghasil uang, sehingga perasaan dan kepribadiannya pun tidak perlu dihormati. Oleh karena itu, membiarkan para budak itu telanjang adalah hal yang normal bagi orang-orang Eropa.
Sumber: mystical





